Gas Bumi sebagai Tulang Punggung Transisi Energi
Diskursus mengenai transisi energi kerap kali dihadapkan pada perdebatan antara ambisi dekarbonisasi dan kebutuhan nyata atas konsumsi energi yang semakin hari semakin tinggi. Diakui, pasokan energi primer yang ada saat ini tidak dapat dipenuhi secara instan hanya mengandalkan energi baru dan terbarukan (EBT). Setelah beberapa tahun terakhir ini para pemangku kepentingan di sektor energi global terpaku pada percepatan pengembangan EBT, arah kebijakan dan investasi di sektor ini kini menunjukkan pergeseran: minyak dan gas bumi (migas) kembali mendapat perhatian besar. Hal ini sejatinya bukan merupakan kemunduran dari komitmen menjaga perubahan iklim, melainkan sebagai penataan ulang yang lebih realistis dengan melihat kenyataan yang ada saat ini. Berdasarkan realitas tersebut, para pembuat kebijakan dan pelaku industri sektor hulu migas menegaskan bahwa keamanan energi dan dekarbonisasi harus berjalan bersama sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan, dimana gas bumi dapat ditempatkan sebagai tulang punggung untuk memenuhi kebutuhan energi yang ada saat ini dan di masa mendatang.
Pandangan ini ditegaskan oleh Hiroyuki Mori, Executive Vice President dan anggota dewan Japan Organization for Metals and Energy Security, saat menjadi pembicara pada sesi “Energy Transition at the Crossroads: Urgency, Reality and the Road Ahead”, di gelaran IPA Convention and Exhibition 2026, beberapa waktu lalu di Jakarta. Menurutnya, kondisi saat ini bukanlah merupakan perlambatan transisi energi, melainkan penataan ulang secara struktural di mana investasi pada sektor energi bersih dan sektor migas justru tumbuh secara paralel serta didorong oleh tekanan yang ada antara ambisi mencegah perubahan iklim dan ketidakpastian pasokan energi global. Pandangan ini menjadi pondasi penting bagi argumen yang menyatakan bahwa migas dan energi terbarukan bukanlah dua kutub yang saling bersaing, melainkan dua elemen yang saling melengkapi.
Sementara itu, berdasarkan analisis yang diungkap oleh WoodMac dan dipaparkan pada sesi yang sama tersebut, gas bumi kini diproyeksikan menjadi tulang punggug yang akan menyumbang hingga 30 persen dari bauran energi primer di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2050. Angka ini merefleksikan adanya ketergantungan struktural kawasan terhadap gas bumi demi menjaga stabilitas pasokan energi di tengah era transisi yang sedang berlangsung saat ini.
Kendati Indonesia diketahui memiliki potensi EBT yang sangat masif, mencapai 3.687 gigawatt dan tersebar di seluruh wilayah negara ini, namun pemanfaatan potensi tersebut memerlukan waktu yang tidak instan. Padahal, sektor-sektor industri yang ada saat ini masih sangat memerlukan pasokan energi yang stabil. Oleh karena itu, keberadaan gas bumi dianggap dapat menjadi penahan potensi guncangan atas pasokan energi saat pemanfaatan EBT diperluas secara bertahap demi memenuhi target bauran energi di masa mendatang. Keterjangkauan harga dan keandalan pasokan juga menjadi faktor mutlak yang harus diperhatikan oleh sebuah negara yang sedang memacu pertumbuhan ekonomi.
Melengkapi pandangan tersebut, Yuzaini Md Yusof, President Director & Country Chairman of Petronas di Indonesia, yang hadir juga sebagai salah satu pembicara pada sesi tersebut menekankan pentingnya pendekatan yang realistis. "Kami memahami tidak ada pendekatan yang seragam untuk semua dalam melakukan transisi energi. Kita perlu memiliki pendekatan yang berbeda dengan memprioritaskan ketahanan energi dan keterjangkauan. Ini sangat penting, sambil secara progresif mengurangi emisi" tuturnya.
Lebih lanjut, menurut dia, Petronas telah menempatkan gas bumi sebagai pilar utama energi di masa depan. "Kita harus memiliki posisi yang jelas mengenai gas alam sebagai bahan bakar transisi, dan Petronas meyakini bahwa gas dan LNG adalah jalan ke depan." Komitmen ini juga tercermin secara konkret dalam arah strategis portofolio perusahaan ke depan; Yuzaini mengungkapkan, "Rencana ke depan kami adalah secara strategis memposisikan ulang portofolio kami ke arah bauran produksi yang lebih berbobot gas bertransisi dari portofolio saat ini yang sekitar 50/50 minyak dan gas menjadi portofolio yang lebih digerakkan oleh gas, yaitu 25 persen minyak dan 75 persen gas bumi pada tahun 2035." Imbuhnya lagi.
Melalui kerangka berpikir tersebut, gas bumi terbukti tetap menjadi pilar ketahanan ekonomi yang memastikan ambisi penurunan emisi global dapat tercapai tanpa mengorbankan stabilitas pembangunan di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. (*)