Peran Sektor Migas Untuk Menjaga Ketahanan Energi dan Mewujudkan Lingkungan Nol Emisi
Transisi menuju energi bersih dan lingkungan nol emisi telah menjadi arah kebijakan secara global. Namun, sektor minyak dan gas bumi (migas) ternyata masih memegang peranan penting dalam upaya mencapai target tersebut, sekaligus memastikan terjaminnya pasokan energi yang dibutuhkan. Hal itu menjadi bahasan utama dalam gelaran IPA Convention & Exhibition 2025 (“IPA Convex 2025”) yang berlangsung pada 20-22 Mei 2025 dan mengangkat tema “Delivering Growth with Energy Resilience in Lower Carbon Environment”.
Dalam sambutan peresmiannya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa sektor migas hingga saat ini masih tetap menarik. Namun, dibutuhkan kepastian hukum dan penyederhanaan regulasi. Presiden juga menekankan bahwa, “kita butuh migas untuk bertahan hari ini, sembari membangun masa depan energi yang lebih bersih.”
Sebagai informasi, Indonesia saat ini diketahui masih memiliki cadangan migas besar yang belum tergarap secara optimal. Baru 16% dari 128 cekungan migas yang telah dieksplorasi secara aktif. Oleh karena itu, Pemerintah kini menargetkan pembukaan 60 Wilayah Kerja (WK) migas baru, dengan prioritas pada gas bumi sebagai energi transisi. Gas bumi kini menjadi andalan untuk memenuhi permintaan domestik dan memperkuat posisi ekspor, khususnya dalam bentuk LNG.
Pada acara IPA Convex 2025, hadir 216 perusahaan nasional dan internasional sebagai peserta pameran, serta 112 pembicara dari seluruh dunia pada sesi konferensi. Selain itu, terdapat tiga penandatanganan kontrak kerja sama bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) WK baru dan lebih dari 25 perjanjian komersial lainnya yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan pada prospek sektor hulu migas di Indonesia.
Hal tersebut menjadi pondasi dalam mewujudkan target swasembada energi nasional seperti yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo.
Di tengah upaya mewujudkan net zero emission, Pemerintah Indonesia juga menyadari pentingnya penggunaan sumber energi yang seimbang antara energi baru dan terbarukan (EBT) dan energi berbahan fosil yang terdiri dari minyak, gas bumi, dan batu bara. Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa kebutuhan energi yang besar saat ini dan bahkan meningkat di masa mendatang. Hingga kini, lebih dari 60% kebutuhan energi nasional masih bersumber dari migas. Infrastruktur transportasi, industri berat, hingga pembangkit listrik skala besar masih sangat bergantung pada pasokan migas.
Pengembangan EBT untuk dapat tersedia secara stabil dan merata masih terus dilakukan di tengah tantangan yang ada, seperti kebutuhan infrastruktur yang masif dan investasi yang besar. Bercermin dari situasi tersebut, maka migas jelas masih berperan penting untuk penyangga selama masa transisi yang ada. Hal ini senada dengan dengan pernyataan yang muncul pada salah satu sesi konferensi di IPA Convex 2025, “transisi energi tanpa energi yang stabil hanya akan menghasilkan ketidakpastian.” Jadi, migas dan EBT seharusnya tidak saling menghilangkan, tetapi justru untuk mendukung hingga pada waktunya EBT dapat memenuhi kebutuhan energi yang ada.
Selain itu, gelaran IPA Convex 2025 juga menjadi momentum untuk menegaskan transformasi industri migas. Walaupun teknologi CCS/CCUS masih memiliki tantangan biaya yang tinggi, namun banyak pihak optimistis bahwa dalam waktu dekat, CCS akan menjadi bagian dari solusi jangka panjang pengurangan emisi karbon dari industri migas.
Hal lain yang disorot pada gelaran tersebut adalah pentingnya reformasi kebijakan. Berbagai permasalahan yang dihadapi investor, seperti kepastian hukum, kebijakan fiskal, dan perizinan yang lebih cepat, merupakan beberapa hal yang dianggap mendesak untuk diperbaiki guna mendorong peningkatan eksplorasi dan produksi migas. Pemerintah pun merespons positif hal tersebut dengan menyusun rencana penyederhanaan proses perizinan dan kebijakan fiskal baru untuk sektor hulu migas.
Alhasil, dengan potensi yang besar, minat investasi yang tinggi, dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi, sektor hulu migas Indonesia niscaya mampu menjadi jembatan menuju masa depan energi yang bersih dan berkelanjutan. Ke depan, kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri baik nasional maupun global dapat menentukan keberhasilan dari sektor energi ini.