Menavigasi Masa Depan Energi Indonesia
Diskursus energi nasional saat ini bergerak pada dua jalur utama, yaitu visi jangka panjang menuju pencapaian target dekarbonisasi dan realitas operasional untuk menjaga ketahanan energi hari ini hingga di masa depan. Bagi para praktisi industri, hal itu bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah agenda tunggal yang sangat strategis demi tercapainya transisi energi karena transisi bukanlah tentang mematikan satu sumber dan menggantikannya dengan sumber energi yang lainnya. Justru, transisi energi adalah upaya membangun arsitektur energi baru yang andal di mana setiap komponennya memiliki peran dalam memastikan terpenuhinya seluruh kebutuhan energi yang ada dan terus meningkat.
Perlu diingat bahwa kebutuhan energi nasional saat ini masih ditopang oleh lapangan-lapangan migas yang telah menjadi tulang punggung produksi sejak puluhan tahun yang lalu. Blok Mahakam di Kalimantan Timur, Blok Cepu di Jawa Timur dan Blok Rokan di Riau merupakan bukti kapabilitas dan manajemen energi kelas dunia yang ada di Indonesia. Namun, data produksi migas harian nasional yang lebih rendah daripada tingkat konsumsi energi yang dibutuhkan sehingga memperbesar impor migas setiap harinya merupakan fakta yang harus diperhatikan oleh kita semua. Oleh karena itu, tugas utama seluruh pemangku kepentingan di sektor hulu migas saat ini bukan sekadar memaksimalkan lapangan yang sudah berproduksi saja, tetapi juga harus secara progresif mencari sumber baru dengan mendorong penemuan cadangan migas melalui eksplorasi demi menjamin pasokan energi di masa depan dan mengurangi ketergantungan impor.
Beberapa waktu yang lalu, terdengar kabar bahwa Lapangan Banyu Urip, di Blok Cepu, Jawa Timur melakukan perawatan sumur dengan cara mematikan sumur produksi yang ada. Kegiatan tersebut dikenal dengan istilah planned shutdown. Ternyata, planned shutdown tersebut langsung berdampak penurunan pada angka lifting migas nasional selama beberapa hari. Hal itu jelas menunjukkan bahwa tingkat lifting migas saat ini sangat bergantung pada sumur-sumur yang menjadi tulang punggung produksi, salah satunya Blok Cepu tersebut. Dapat kita bayangkan, jika sumur-sumur yang menjadi tulang punggung produksi migas itu mendadak mati karena mengalami gangguan.
Oleh karena itu, ketergantungan pada lapangan-lapangan migas besar yang ada saat ini harus diimbangi dengan penemuan-penemuan sumur baru guna menciptakan daya tahan energi yang lebih kokoh. Salah satu upaya yang tengah dilakukan pemerintah saat ini adalah menawarkan 75 Wilayah Kerja (WK) baru selama tiga tahun ke depan hingga 2028. Tentunya hal ini menjadi sebuah momentum yang harus dikawal bersama seluruh pihak yang terlibat. Sebuah pertanyaan besar yang harus dapat dijawab adalah “Seberapa menariknya Indonesia bagi para investor migas global yang ada?”
Jika melihat banyaknya cekungan migas di Indonesia yang belum dieksplorasi, mungkin para investor hulu migas global tidak pernah meragukan negara ini dalam hal potensi yang dimilikinya. Namun jika melihat persaingan global di sektor energi saat ini, para investor akan selalu mencari lokasi yang paling menarik berdasarkan aspek-aspek berikut: potensi geologis, kepastian regulasi dan ketentuan fiskal yang ditawarkan. Oleh karena itu, penyempurnaan ketentuan fiskal, kepastian hukum, dan efisiensi birokrasi menjadi kunci absolut untuk dapat meningkatkan daya saing Indonesia saat ini dan ke depannya. Investor yang menanamkan modalnya di Indonesia sangat berharap proyek yang mereka jalankan akan memiliki kondisi yang pasti dan stabil selama berlangsungnya kontrak.
Pada akhirnya, jalan menuju transisi energi di masa mendatang melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) seperti digagas oleh pemerintah saat ini diharapkan dapat berlangsung secara sinergis dan berkelanjutan karena adanya dukungan dari sektor hulu migas guna memenuhi kebutuhan energi yang sudah ada saat ini. Peran aktif pemerintah untuk mengakselerasi pengembangan EBT dan inovasi teknologi hijau di satu sisi dan secara agresif mendorong eksplorasi hulu migas untuk mengamankan pasokan energi saat ini, di sisi yang lain, diyakini dapat membuat bangsa Indonesia menjadi berdaulat dan mandiri secara energi, seperti yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto melalui program Asta Cita-nya. (*)